Kamis, 11 April 2013

Always (oneshoot)




Anyyeongggg......... *muncul lagi setelah lama ngilang* mian baru nongool lagi, ini FF ke tiga yg berhasil saya buat

Enjoyy~~




Aku mencoba untuk tidur, tapi apa daya mata ini seperti tidak mau tertutup. Aku tahu ini konyol tapi ini benar-benar terjadi padaku, aku tak bisa tidur karena seorang yeoja yang tadi pagi menabrakku dengan sepedanya. Walau pun badan ku sakit, tapi sakit itu hilang saat aku menatap wajahnya yang begitu manis. Otakku mulai mengingat-ingat kejadian tadi. Dia seperti sedang terburu-buru, karena dia mengendarai sepeda itu dengan kecepatan maksimum *seberapa cepat sih sepeda itu?*. Aku yang saat itu sedang berjalan santai, tiba-tiba saja dia menabrakku hingga kurasakan tulangku patah—hanya untuk bilang sakit.
“Gwencana??” kata yang paling aku ingat dari kejadian itu, aku hanya tersenyum ketika aku mengingat kejadian itu.
‘KRINGG...........’
Bunyi jam weaker ku yang menyadarkan ku dari lamunanku. “Sial!! Gak tidurr!!” aku bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh muka. Suhu 20 C membuatku malas untuk mandi, walau pun aku harus ke sekolah. Sebenarnya ini hari pertamaku masuk di sekolah baru, karena Appa pindah tugas dan aku harus ikut dengannya.
“Chansung-aa!!! Cepat turun dan sarapan!!” seru Appa dari bawah
“Ndee!! Sebentar!!!” suaraku tak kalah kerasnya
Aku memang hanya berdua dengan Appa, karena Eomma sudah meninggal sejak aku masih bayi. Tapi aku masih kurang percaya dengan itu, masalahnya aku belum pernah sekaipun di ajak untuk ziarah ke makam Eomma, dan parahnya lagi aku tak pernah tahu wajah Eomma. Appa tak pernah memberiku foto Eomma, jadi aku benar-benar tak tahu seperti apa wajah Eomma.
Saat aku pertama kali sampai di sekolah aku heran, kenapa sekoah ini masih sepi. Mungkin kah sudah masuk atau memang seperti ini biasanya? Appa langsung menuju ruang kepala sekolah untuk urusan administrasi, dan aku?? Seperti biasa, aku melihat-lihat sekolah yang akan menjadi tempat ku belajar nanti. Sekolah ini cukup keren, ada ruang musik, ruang dance, ruang drama, dan lainnya. Sepertinya Appa memang mengerti sekolah yang cocok denganku.
‘BRUKK!!!’
Seseorang menabrakku dari belakang *sial banget nih anak, di tabrak mulu* untung aku tak jatuh, tapi lama kelamaan punggungku terasa hangat dan basah. Aku mulai berfikir yang aneh-aneh. Saat aku menoleh ke belakang, ku dapati seorang gadis yang sedang menangis di punggung ku.
“Gwencana?” aku memastikan bahwa dia tidak menangis karena menabrakku
“Hiks.. nde.. hiks.. gwencana” jawabnya di sela-sela tangisnya
“Wae?? Kau sakit?”
“Ani... hiks. Bisakah kau seperti ini sebentar lagi??”
“Baiklah”
Kurang lebih 5 menit dia menangis di punggung ku, dia mulai berhenti dan mendongakkan kepalanya. Aku kaget setegah mati setelah aku tahu siapa yang dari tadi menangis di pungungku. Gadis yang menabrakku dan membuatku tak bisa tidur tadi malam!
“Gomawo... mian merepotkan mu” katanya sambil tersenyum yang dipaksakan
“Nde. Apakah kita perna bertemu sebelumnya?” seteah mendengar pertanyaan ku dia mulai mengamatiku wajahku
“Ahh.... kamu yang kemarin aku tabrak kan?” sepertinya dia ingat “Jeongmal mianhae!”
“Nde” jawabku singkat, sebenarnya aku bingung mau berkata apa
“Kau siswa baru di sini??”
“Nde”
“Baiklah. Untuk menebus kesalahanku karena menabrak ku kemarin dan memintamu untuk meminjamkan punggung mu, aku akan menjadi guide mu untuk melihat-lihat sekolah ini. Bagaimana?”
“Baiklah. Kajja!”
Akhirnya aku di temaninya untuk meihat-lihat sekolah ini, sebenarnya tadi sudah cukup bagi ku. Tapi aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Jadi di mana kelas mu?” pertanyaannya mengembalikan pandanganku yang sedari tadi melihat ke arahnya
“Ahhh... nggg... 11-2” jawabku kaget
“Jjinjayo??” katanya tak percaya
“Wae?? Tidak percaya??” aku bingung dengan reaksinga
“Anii, berati kau sekelas dengan ku dong?” katanya sambil tersenyum
“Jjinja??” sekarang giliran aku yang tak percaya
“Oh ya. Kita belum kenalan kan?? Aku Suzy, Baek Suzy” katanya sambil menguurkan tangan
“Chansung, Hwang Chansung” ku sambut uluran tangannya “tapi kenapa sekolah ini masih sepi??”
“Ohh, ini memang biasanya seperti ini. Siswa biasanya akan datang 15 menit sebelum bel masuk”
“Dan kau??”
“Aku?? Aku terbiasa datang pagi, aku suka sekolah jika masih sepi. Tidak teralu ramai, jadi aku bisa bebas mau ngapain aja, hehe”
Tuhan sungguh sayang padaku, dia mempertemukan aku dengan gadis yang aku sukai sejak dia menabrakku kemarin. Bukan hanya satu sekolahan, bahkan sebangku.

Sudah hampir 3 bulan aku bersekolah di sini, dan aku sudah mendapatkan banyak teman. Aku mulai mengetahui siapa Suzy sebenarnya dan sifatnya. Jadi tak heran jika dia tiba-tiba nangis sendiri, biasanya dia begitu karena melihat burung yang jatuh, semut keinjek, pokokya dia mudah sekali terharu. Apa agi dia sayang binatang, tak heran ju=ika dia seperti itu.
Memasuki bulan ke empat aku sekolah di sini, perasaan yang selama ini aku sembunyikan dalam hatiku serasa ingin keluar dari tempatnya. Apa lagi sekarang ada yang mendekati Suzy yaitu, seorang cowok bernama Taecyeon. Sepertinya Taecyeon menyukai Suzy, walaupun Suzy tak menyadarinya. Hati ku sakit saat Suzy pergi dengan Taecyeon, aku memang tak berhak mengatur dia. Jadi, aku putuskan untuk mengungkapkan semuanya pada Suzy.
Waktu yang aku tunggu datang, aku mengajak Suzy ke haaman belakang sekolah, seteah sekolah usai.
“Suzy-aa ada yang mau aku bicarakan pada mu” katku basa-basi
“Mwo? Bilang aja” katanya polos
“Mmm.... mmmm.....”
“Mwo??”
“S-s-saranghaeyo”
“Mwo?? Aku tak salah dengar?”
“Sebenarnya aku sudah menyukaimu saat aku menabrak ku di hari itu. Jadi maukah kau menerima ku??”
“Mmmmm..... gak.... gak mau nolak”
“Jadi....”
“Sebenarnya, waktu aku menagis itu hanya pura-pura saja, karena aku tahu itu adaah kamu. Dan Taecyeon, dia sepupuku. Aku memintanya untuk mendekati aku agar kau mengatakan ini padaku” Suzy tersenyum manis padaku
Aku memeluknya erat.
“Oppa, maukah kau berjanji padaku 1 hal?”
“Mwo?”
“Maukah kau berjanji akan selalu di sisi ku?”
“Nde. Aku berjanji!”
“Gomawo”

Dua bulan setelah itu, aku mulai merasakan ada yang aneh dengan Suzy, dia sering terlihat pucat dan sering tidak masuk sekolah. Dan sudah hampir seminggu ini dia tidak masuk sekolah.Aku khawatir dengannya, aku berfikiran yang aneh-aneh tentang Suzy. Suzy tak pernah bilang padaku dimana tempat tinggalnya. Jadi aku harus bertanya pada Taecyeon sepupu Suzy.
“Taecyeon, kau tahu rumah Suzy kan??” tanyaku pada Taecteon
“Suzy?? Dari mana kau mengenal Suzy??”
“Apa maksudmu?? Bukannya....”
“Suzy sebenarnya sudah meninggal tahun lalu. Dia mengalami kecelakaan dan mengalami dead brain. Suzy mampu bertahan selama 1 bulan, dan setelah itu, otaknya benar-benar tak berfungsi” Taecyeon menjeaskan dengan tatapan kosong
“Mustahil!! Suzy selama ini ada dengan ku, kau juga kan?? Bukannya dia memintamu untuk pura-pura mendekatinya??” aku tak percaya dengan penjelasan Taecyeon
“Aku memang sering datang ke kelas Suzy. Setelah dia meninggal aku selalu datang di depan pintu dan memanggil namanya dan .....”
Sebelum Taecyeon melanjutkan kata-katanya aku pergi menjauh dariya dan pergi ke tempat dimana aku menyatakan perasaanku. Aku meihat bayangan Suzy yang sedang tersenyum padaku
“Kenapa jadi seperti ini?” aku bertanya padanya yang masih tersenyum manatapku, dia tetap tak berkata, dia hanya tersenyum dan meambaikan tangannya. Lama kelamaan bayangannya semakin hilang dan Suzy benar-benar hilang untuk selamanya. Walau pun bukan Suzy yang sebenarnya, aku tetap mencintainya.
Suzy can you hear me?? I’ll aways love you, even if you’re no longger here. You’ll always be in my heart


How it is?? Dont be a silent reader, do eave a comment,, ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar